SociaVera Insights

Sepintar apa pun AI, manusialah yang menilainya.

Wawasan singkat berbasis bukti tentang bagaimana orang mempersepsikan, mempercayai, dan mengandalkan sistem AI, bersumber dari psikologi, ilmu perilaku, dan riset kami sendiri.

Masalahnya bukan orang kurang percaya AI, tapi percayanya tidak pas

Orang yang terlalu percaya pada AI bisa salah memakainya. Orang yang terlalu curiga bisa tidak memakainya sama sekali.

Begitu robot tampak mandiri, ia disalahkan nyaris sama seperti manusia

Dalam riset Furlough dkk. (2021), robot yang tidak mandiri nyaris tidak disalahkan saat tugas gagal, tapi robot yang mandiri disalahkan nyaris sama seperti manusia.

AI yang tampak punya perasaan bisa terasa lebih mengganggu

Gray dan Wegner (2012) menemukan bahwa mesin yang dianggap bisa merasakan lebih menyeramkan daripada mesin yang cuma pintar.

Pakai AI belum berarti percaya AI

Studi AWS 2026 menemukan bahwa 40% bisnis di Indonesia sudah memakai AI, tapi sebagian besar pengguna masih di tahap coba-coba.

Saat chatbot gagal, kepercayaan turun dan emosi ikut muncul

Setelah chatbot gagal, pengguna melaporkan marah, frustrasi, merasa dikhianati, dan pasrah. Kepercayaan mereka pun ikut turun.

Tahu skornya saja belum cukup, Anda perlu tahu alasannya

Sebuah bank bertanya ke nasabah, “seberapa percaya Anda pada chatbot kami?” Hasilnya rata-rata 4 dari 5. Lalu apa yang bisa dilakukan bank dari angka itu?